Ocit Abdurrosyid Siddiq : Bukan Tiket Masuk Surga

Ocit Abdurrosyid Siddiq : Bukan Tiket Masuk Surga

Hasan Basri adalah seorang ulama besar. Suatu saat dia hendak melamar Rabiah Al Adawiyah, sufi perempuan, janda yang ditinggal wafat suaminya.

Rabiah bersedia diperisteri, dengan syarat sang ulama bisa menjawab empat pertanyaan. Empat pertanyaan itu sebagai berikut.

"Pertama, bila saya wafat, apakah saya membawa iman ataukah tidak? Kedua, mampukah saya menjawab atas pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir? Ketiga, saat berada di Padang Mahsyar, apakah saya menerima catatan perbuatan dengan tangan kanan atau kiri? Keempat, ketika dipanggil Allah, saya masuk surga atau neraka?".

Tak satupun pertanyaan itu mampu dijawab sang ulama. Akibatnya, pinangan itu pun batal. Hal ini menunjukkan dua hal.

Pertama, dengan amal shalihah yang terbiasa dilakukan oleh Rabiah, sesungguhnya bisa saja dia "confident" akan selamat kelak di akhirat, dan tak perlu menanyakan hal itu. Tapi ketawadhuan dia mengalahkan rasa "confident" itu.

Kedua, dengan pemahaman yang tinggi dan ilmu yang luas, walau secara kasat mata sang ulama tahu atas shalihahnya Rabiah, dia tak berani untuk menyampaikan pendapatnya perihal ghaib yang belum terjadi.

Padahal, walau secara objektif dia bisa saja menjawabnya, apalagi didorong keinginan untuk meminangnya, namun hal itu tak dia lakukan karena perkara ghaib dan urusan nasib manusia di akhirat merupakan "otorisasi" Allah SWT.

Hikmahnya bagi kita yang berjarak jauh dengan kealiman, keilmuan, ketawadhuan, dan keshalihan sang ulama, untuk tidak terlalu gampang menempatkan nasib seseorang, apakah kelak akan menghuni surga atau neraka.

Sebagian dari kita kadang lancang dan serampang; berani menetapkan vonis atas seseorang. Hanya karena beda praktik amalan, beda fiqih, beda madzhab, beda aliran, lantas mencap nasib orang. Beda, maka baginya adalah neraka.

Bahkan pesta demokrasi kadang juga dipakai untuk mengkategorisasi antara kelompok "kami" dengan kelompok mereka". Sama pilihan dan dukungan dimaknai sebagai kami, baik di dunia, juga nanti di akherat. Beda pilihan dan dukungan, sebaliknya.

Fenomena ini amat terasa dan nyata pada pesta demokrasi beberapa waktu lalu. Baik saat pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, juga pada saat pemilihan Kepala Daerah. Banyak perkara politik diseret, dikemas, dan dibungkus dalam bingkai agama.

Bahwa setiap gerak, langkah, tindakan, bahkan tarikan nafas, tidak terlepas dari persoalan agama, saya sepakat. Tapi saat sebagian dari kita telah dengan yakin seseorang akan berada di surga atau neraka atas pilihan politiknya, adalah ulah yang melampaui kewenangan Tuhan.

Jangankan Nabi SAW, malaikat saja tidak punya kuasa untuk menempatkan kita kelak dimana. Apalagi kita sesama manusia biasa. Karena kartu suara, bukan alat gesek digital pembuka pintu surga atau neraka. Walahualam.

Opini Artikel Surga Neraka
Uce Saepudin

Uce Saepudin

Previous Article

Netizens Facebook Terganggu Banyak di Tag...

Next Article

Seorang Pejabat Pemprov Ditahan Kejati Banten

Related Posts