Ocit Abdurrosyid Siddiq : Medsos Nama Beda, Isi Kénéh Kéhéd

Ocit Abdurrosyid Siddiq : Medsos Nama Beda, Isi Kénéh Kéhéd

Anda punya gadget? Anda punya akun media sosial? Anda tergabung dalam group di media sosial? Saya yakin anda akan mengiyakan atas tiga pertanyaan itu. Hari gini, mana ada gadget cuma buat menelpon dan berkirim pesan singkat saja. Iya kan?

Pada tahun 2010an, aplikasi Blackberry Messenger atau BBM demikian popular. Aplikasi ini bukan hanya bisa dipakai untuk berkirim pesan, gambar, dan video saja, bahkan bisa digunakan secara berjamaah. Bermunculan lah group BBM.

Setelah muncul aplikasi WhatsApp, BBM mulai ditinggalkan. Memiliki fungsi yang hampir sama dengan BBM, WhatsApp juga selain bisa dipakai untuk berkirim tulisan, foto, dan video, juga bisa dimanfaatkan untuk berkirim dokumen. WhatsApp juga bisa dipakai secara keroyokan. Muncullah group WA.

Dapat dipastikan bahwa setiap pengguna WhatsApp, juga tergabung dalam sebuah group. Kadang tidak satu group, tapi banyak group. Apalagi bagi orang yang memiliki banyak aktifitas. Dari group alumni, group komplek, group tempat kerja, group teman nongkrong, group club dan komunitas, dan group lainnya.

Nama group disesuaikan dengan kesamaan yang menjadi pengikat diantara anggota. Group alumni, anggotanya adalah lulusan lembaga tertentu. Group komplek, beranggotakan warga yang berdomisili di tempat tertentu. Group tempat kerja terdiri dari orang-orang yang bekerja pada kantor tertentu.

Beda nama group, beda pula keanggotaannya. Kadang ada diantaranya yang menjadi anggota beberapa group yang sama. Seperti saya. Saya tergabung dalam lebih dari 50 Group WA. Ada juga teman saya yang tergabung dengan beberapa group yang sama dengan saya.

Idealnya, penamaan group bukan semata sebagai pembeda keanggotaan saja. Tapi juga isi pembicaraan (baca : tulisan). Isi pembicaraan group cendekiawan tentu berbeda dengan group alumni, atau group penghobi batu akik misalnya.

Tapi faktanya, pengalaman saya yang tergabung pada lebih dari 50 Group WA, isi pembicaraan hampir sama. Sama-sama membincang persoalan aktual. Corona misalnya. Karena temanya sama, tanpa sadar kadang lupa dan keliru, sedang berbincang dalam group yang mana. Apakah yang sudah menggunakan “prosesor core” atau yang masih memakai “pentium dua”.

Anggota group kadang tidak menyadari, bahwa kita sama-sama pengguna internet. Sama-sama punya kuota. Ketidak-sadaran itu misalnya dengan berseliwerannya tautan atau link berita dari media portal berita tertentu. Dikirim dan dibagi tidak hanya sekali, dan tidak hanya oleh satu orang.

Padahal, bila kita menyadari bahwa kita adalah sesama pengguna internet, maka “apa yang anda baca, kami pun sudah baca, apa yang anda bagikan itu, sudah dibagikan oleh orang lain”. Kami sudah tahu. Yang anda bagikan itu basi, Bro..!

Konyolnya, kita kadang hanya membaca judul tautan atau link yang dibagikan. Jarang orang mau menelusuri berita dan membacanya hingga tuntas pada portal media bersangkutan. Sementara, “bad news good news” dikemas dengan judul yang bombastis dan tendensius.

Akibat cara baca yang parsial dan tidak "kaffah" inilah kemudian memunculkan kekeliruan pemahaman. Lalu tanpa pengetahuan utuh, larut dan latah dalam memberikan komentar dan tanggapan. Kadang dibumbui dengan sumpah serapah. Tak lupa melengkapinya dengan emoticon “ngece”.

Gejala seperti diatas bukan hanya saya temukan pada group dengan “prosesor pentium dua”. Hal yang sama juga saya temukan pada group dengan “prosesor core”. Nama group boleh beda, tabiatnya sama saja. Sami mawon. Kénéh Kéhéd!

Medsos WA BBM Grup
Uce Saepudin

Uce Saepudin

Next Article

Dana Hibah Pondok Pesantren Disunat, Kejati...

Related Posts